Mereka beranggapan hidup ini hanya sekali, jadi harus dibuat se-enjoy mungkin demi memenuhi hawa nafsu yang tanpa batas. Bahkan ada yang lebih parah dalam mengekspresikan hidupnya yaitu penganut paham nudisme. Mereka mengeimplementasikan gaya hidup bersenang-senang melalui pesta bugil. Entah apa yang ada di benak mereka, sehingga mereka melakukan hal yang begitu tidak bermartabat. Bahkan saya bisa mengatakan kalau mereka tak lebih dari sekedar binatang. Tidak mempunyai rasa malu, sungguh jauh dari kodrat manusia.
Tapi dalam kesempatan kali ini saya akan mengupas lebih detail tentang gaya hidup hedonisme di kalangan mahasiswa. Sebenarnya hedonisme tidak hanya dilakukan kalangan mahasiswa,tetapi juga masyarakat pada umumnya. Terutama dalam hal pemakaian waktu. Mereka gampang membuang waktu percuma unutk melakukan hal yang tidak bermanfaat. Misalnya saja sering belanja,nonton variety show,dll.
Pengaruh materialisme dan hedonisme sangat luar biasa dahsyatnya pada segala segi kehidupan, termasuk pada dunia pendidikan tinggi. Banyak mahasiswa yang memilih gaya hidup instant, dan hal ini berimbas pada cara pendidikan mereka. Misalnya saja mahasiswa ingin cepet-cepat lulus dengan nilai baik tanpa melalui proses yang panjang dan rumit. Mereka seolah-olah hanya mengejar nilai tanpa memperdulikan aspek ilmu pengetahuan yang akan mereka peroleh. Jadi ibaratnya mereka kuliah hanya demi mengejar nilai dan ijasah tanpa mendapat ilmu apapun.
Segala sesuatu diukur dengan uang, bahkan tak jarang ada jual beli ijasah atau nilai. Fenomena yang lebih menarik adalah banyak kalangan mahasiswa yang rela mengobral tubuhnya hanya demi mendapat nilai yang bagus dari dosen. Sungguh ironis memang jika kita menilik kehidupan para mahasiswwa.
bibit aktivitas desktruktif yang tumbuh sebagai akibat budaya-budaya hedonisme, konsumerisme serta selebritisme mulai tumbuh dengan cepat. Lebih parah lagi, kecendrungan itu menyerang generasi-generasi muda sebagai kader bangsa masa depan.
Fenomena yang menghawatirkan itu mula-mula ditandai dengan sebuah kecendrungan menghamburkan uang untuk hal-hal yang sifatnya tersier, sementara di sisi lain meninggalkan kepedulian mereka terhadap pendidikan. Anak-anak muda yang terdiri dari para pelajar dan mahasiswa terjangkiti virus-virus konsumerisme yang dipicu maraknya pusat perbelanjaan; mal, hypermarket, pusat kulakan, tempat-tempat hiburan mulai dari café, resto cepat saji, diskotik, rumah musik, pusat-pusat permainan instan-elektronik dan virtual game station, atau bahkan yang lebih parah minuman keras dan narkoba. Akibatnya, generasi muda mulai mengesampingkan spiritnya untuk terus meningkatkan kualitas diri mereka sebagai generasi yang nantinya bertanggungjawab terhadap negara dan bangsanya.
Jika diselidiki, tumbuhya budaya hedonisme ini tetap tidak jauh dari ideologi kapitalisme sebagai embrionya. Tak bisa kita pungkiri realitas sosial di sekitar kita dipenuhi oleh begitu dominannya peran para kapitalis besar yang tak punya orientasi lain kecuali keuntungan dan eksploitasi.
Sementara dari aspek moralitas, sasaran atau obyek yang telah termakan budaya hedonisme menjadi kurang apresisinya terhadap nilai-nilai etika dan moral. Tidak bisa dipungkiri bahwa kecendrungan mengikuti tren mutakhir dari sikap hidup merupakan salah satu kriteria hedonisme. Ciri yang paling nampak dari praktik budaya hedon adalah tidak adanya nilai etika atau moralitas yang disertakan dalam sikap maupun tingkah laku obyek.
. Perzinahan, minuman keras, pergaulan bebas dan gemerlapnya hedonisme diberikan fasilitas dan legalitas
Kini, hedonisme itu tumbuh subur dalam kampus. Ironis memang, dunia intelektual dan perjuangan itu kini telah ternoda dengan praktek-praktek kotor hedonist. Karena jelas, dunia intelektual dan hedonisme bertolak belakang.
Hedonisme adalah derivasi leberalisme. Sebuah pandangan hidup bahwa kesenangan adalah segala-galanya, bahkan kehidupan itu sendiri. Bagi hedonist, hidup adalah meraih kesenangan materi yang, sangat jelas, sifatnya semu, sesaat dan artifisial. Pandangan ini lahir di barat yang memuja kebebasan berperilaku.
Sementara kampus adalah tempat menggembleng intelektual dan idealisme. Tidak salah jika tri darma PT mencantumkan pendidikan dan pengabdian masyarakat. Pengabdian masyarakat, hakekatnya, adalah membebaskan masyarakat dari keterbelakangan, ketertindasan, kebodohan, kedzoliman dan segala macam bentuk kebijakan penguasa yang tidak berpihak pada rakyat. Sebelum mengabdi ke masyarakat, jelas mahasiswa butuh pergolakan intelektual dan pendidikan.
Kalau demikian persoalannya, hedonisme adalah racun bagi dunia pendidikan, terutama pendidikan tinggi. Membiarkan racun bersarang dalam tubuh kampus sama artinya dengan menyediakan pembunuh karakter intelektual atas mahasiswa dan civitas akademika.
Hedonisme itu bisa berwujud perilaku yang bebas. Standarnya jelas, bebas dari Islam. Maka, setiap perilaku dan atribut yang menyertainya, yang keluar dari konteks Islam, bisa termasuk hedonisme. Mulai dari cara berpakaian yang bebas, yaitu membuka aurot, apalagi pakaian ’minimal’ yang kini ngetrend di kampus-kampus. Sampai perilaku dugemania dan seks bebas yang sekarang kian menjadi-jadi.
Tentu, para birokrat kampus punya tanggung jawab untuk menertibkan mahasiswanya. Memberikan kesempatan (dengan aturan-aturan kampusnya) kepada mahasiswa menganut hedonisme, mulai pakaian ketat dan terbuka sampai seks bebas, sama artinya dengan strukturalisasi hedonisme ala kampus. Jelas, hal ini adalah pelecehan dan penghinaan terhadap nilai-nilai intelektual. Lebih dari itu, kebijakan itu tidak sejalan dengan Islam.
Tentu, hedonisme struktural harus dilawan. pertama, harus dibangun gerakan kultural agar mahasiswa tidak terseret dalam pusaran hedonisme, yaitu melalui pembinaan Islam. Melalui pembinaan Islam, diharapkan muncul generasi yang memahami kewajiban dan tanggungjawabnya untuk memperjuangkan Islam. Kedua, selain melawan, gerakan kultural harus juga diarahkan untuk meluruskan penguasa agar menjalankan kewajibannya dengan memenuhi hak-hak rakyat. Juga sikap kritis pada birokrat kampus yang membiarkan hedonisme tumbuh .(Teguh Wahyudi)
No comments:
Post a Comment